Friday, November 2, 2012

02/11 QS. AL-BAQARAH (2) : 16

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرُوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tiadalah beruntung perniagaannya dan mereka tidak mendapat petunjuk

 1). Jual beli atau barter artinya tukar-menukar antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kalau kita membeli sesuatu, maka kita menyerahkan uang kita kepada pemilik sesuatu itu, baru kemudian kita mengambil sesuatu dari penjualnya. Kalau kita barter, berarti kita menyerahkan barang kita kepada lawan barter kita setelah itu kita ambil barangnya sebagai ganti dari barang yang kita serahkan tadi. Dengan demikian, baik dalam jual-beli ataupun barter sama-sama ada pertukaran kepemilikan. Nah, orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir (ayat 8) adalah orang yang menggunakan ‘iman’ sebagai mata uangnya untuk bisa diterima ‘bergabung’ ke dalam masyarakat orang beriman (ayat 14) agar, dengan begitu, mereka bisa melancarkan makarnya di tengah-tengah orang beriman. ‘Iman’ adalah الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK), ‘makar’ adalah الضَّلاَلَةَ (adh-dholālah, kesesatan). Mereka ‘menyerahkan’ PETUNJUK-nya demi keberhasilan perjuangannya untuk menyesatkan orang yang sudah beriman.

2). Perniagaan seperti ini tidak pernah beruntung. Alasannya, mereka (orang munafiq itu) ‘menyerahkan’ الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an) yang nilai kebaikannya tak bisa diukur untuk mendapatkan الضَّلاَلَةَ (adh-dholālah, kesesatan) yang tak punya nilai kebaikan sama sekali. Membandingkan keduanya dengan berlian sebesar bola bumi dan sebutir pasir pun belum pantas. Karena bagaimana mungkin membandingkan sesuatu yang nilainya tak-terhingga dengan sesuatu yang tidak punya nilai sama sekali. Bagaimana mungkin membandingkan cahaya dengan kegelapan. Jangankan membandingkan, menghadirkan keduanya di satu tempat pada saat yang sama pun tidak mungkin. Sama tidak mungkinnya menyatukan antara yang ADA dan yang TIDAK-ADA. Allah mengajarkan kita: “Allah sama sekali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah qalbu dalam rongga(jiwa)nya (untuk menampung dua hal yang saling bertentangan satu sama lain).” (33:4)


3). Di ayat ini Allah menyebut perbuatan jual-beli dan barter mereka dengan mempertegasnya sebagai تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan). Keduanya memang mirip, tapi tidak sama. Orang yang melakukan perbuatan jual-beli atau tukar-menukar barang tidak secara otomatis disebut sebagai تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan). Orang yang perbuatan jual-beli atau tukar-menukarnya pantas disebut تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan) ialah orang yang profesi utamanya memang di bidang jual-beli dan tukar-menukar barang. Jadi ayat ini ingin menyampaikan kepada kita pengumuman penting. Yaitu, berhati-hatilah, waspadalah, karena orang munafiq itu profesi utamanya adalah تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan) yang komoditas dagangannya adalah الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an). Pesan inti ayat ini ialah “berhati-hatilah dari mana Anda mengambil agama Anda, karena Agama itu punya sumber. Kalau Anda mengambilnya dari sumber yang tersesat maka Anda pun turut tersesat.” Soalnya, orang-orang munafiq ini kemana-mana selalu menggunakan ‘baju’ dan ‘mata-uang’ الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an), sehingga sangat mudah menipu dan mengecoh manusia. Karena walaupun dagangan (‘baju’ dan ‘mata-uang’) mereka الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an), tetapi mereka sendiri tidak mendapat PETUNJUK.

Berhati-hati, waspada, sebab sebagai pedagang profesional, mereka mengemas barang dagangannya sedemikian rupa sehingga kebanyakan manusia tidak mengenalnya: “Di antara orang-orang Arab (Badui) yang ada di sekelilingmu (Muhammad), ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka…” (9:101)

 4). Agar jangan kena tipu oleh orang munafiq dengan perniagaannya yang begitu menggiurkan, maka Allah menawarkan satu-satunya perniagaan yang bukan saja tidak membawa kerugian tapi sekaligus menghindarkan manusia dari azab yang pedih—seperti azab yang dirasakan oleh mereka (ayat 10). “Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?” (jawaban pertama, yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kalian mengetahuinya.” (61:10-11) Jawaban berikutnya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (al-Qur’an) dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (35:29)


AMALAN PRAKTIS
Anda boleh membaca buku apa saja dan mengaji di mana saja. Tetapi tetaplah waspada. Karena, menurut ayat ini, tidak sedikit orang yang menjadikan agama sekedar sebagai topeng, sebagai barang dagangan, untuk mengecoh orang mukmin agar mau mengikuti agenda mereka yang tersembunyi dengan rapih di balik jubah mereka.

 

No comments:

Post a Comment

Post a Comment