Wednesday, November 7, 2012

07/11 BACA : MAZMUR 119 : 9 - 16

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. —Mazmur 119:11
 
Yohanes 18 - 21
___________________________________________________________

Dari Kepala Turun Ke Hati

Guru piano saya ketika saya masih kecil adalah seorang yang sangat mementingkan hafalan. Menurutnya, mampu memainkan satu lagu tanpa kesalahan belumlah cukup. Saya harus memainkan beberapa lagu tanpa kesalahan dengan mengandalkan ingatan saya. Alasan guru saya adalah ia tidak ingin ketika murid-muridnya diminta untuk memainkan lagu, mereka sampai berkata, “Maaf, buku musik saya ketinggalan.”

Sebagai anak-anak, saya juga menghafalkan ayat-ayat Alkitab, termasuk Mazmur 119:11. Karena tidak mengerti betul apa maksudnya, saya meyakini bahwa menghafal ayat saja akan dapat menjauhkan saya dari dosa. Saya berupaya keras menghafalkan ayat demi ayat, bahkan saya memenangi hadiah sebuah Alkitab bergambar karena kemampuan saya menghafal.

Meski menghafalkan ayat Alkitab adalah kebiasaan yang baik untuk dipupuk, bukan tindakan menghafal itu sendiri yang dapat menjauhkan kita dari dosa. Segera setelah memenangi lomba menghafal tersebut, saya menyadari bahwa meski ada banyak ayat Alkitab yang terekam dalam otak saya, perilaku saya tidak banyak berubah. Sebaliknya, pengetahuan saya yang banyak itu justru menimbulkan perasaan bersalah, bukan kemenangan atas dosa.

Akhirnya saya sadar bahwa firman Allah haruslah menyebar dalam kehidupan diri saya seluruhnya. Saya perlu menghayati Kitab Suci dengan menyimpannya di dalam hati, seperti yang dilakukan seorang musisi ketika memainkan sebuah lagu. Saya harus menghidupi Alkitab sebaik saya menghafalkannya. Ketika firman Allah turun dari kepala ke hati, kuasa dosa atas diri kita pun melemah. —JAL
Ya Tuhan, Allahku, kiranya firman-Mu benar-benar menjadi
bagian dari hidupku sehingga aku mau taat dengan
hati yang penuh kesungguhan dan sukacita.
Ubah dan bentuklah aku sesuai dengan gambaran-Mu.
Kiranya firman Allah mengisi pikiran Anda, menguasai hati Anda, dan menuntun hidup Anda.
 

LIFESTYLES IN INDONESIA

Family life

Family is very important in Indonesia and it is very common for extended families that include grandparents, aunts, uncles and cousins to all live together in one place. Although this is true both in the cities and in the rural areas of Indonesia, it is becoming less common in city life.
Generally speaking, most Indonesian families are close and work hard to help each other. People have a responsibility to their families and especially to their elders. Indonesians are expected to respect the experience of their elders and follow their advice. They are also expected to look after their parents in old age.
Children learn from an early age how to help around the home. In rural areas they may work on farms when they are not at school. In the cities they may try to find a job, such as selling clothes at the market.

Social life

The pace of life in Indonesia is slower. People use the term jam karet which can be understood as 'time that stretches like rubber'. This concept reflects the way that Indonesians prefer to take things as they come, rather than plan every moment of their day. This means that things like parties or business appointments are not planned and kept in the same way that they are in Australia.
Particularly in their social life, Indonesians prefer not to make detailed plans and be expected to arrive places at particular times. This is one of the reasons that Indonesian meals tend to be simple combinations of rice and sauces that can easily cope with the sudden arrival of a few more people.
Sometimes in rural areas if there has been a very good harvest, the members of a kampung may decide to hire a travelling wayang show and celebrate. They may also pay the local gamelan orchestra to play at important events.
In the cities, Indonesians prefer to meet at street stalls for coffee and conversation (see image 1). People can spend hours just talking with friends and catching up on events.

Natural disasters

Indonesia is regularly affected by natural disasters. There are many active volcanoes on the islands and earthquakes are also common occurrences. Every year many people die or lose their homes as a result of natural disasters in Indonesia.
One of the biggest natural disasters in recent history took place on 26 December 2004 when there was a major tsunami that hit several countries in Southeast Asia. In Indonesia, the province of Aceh was the worst affected (see image 2).

Changing lives

Lifestyles in Indonesia are changing for a number of reasons. Indonesians are working hard to keep up with all the changes in their society.
One of the main reasons for change is the continuing improvements in education in Indonesia. All children in the country are required to attend primary school but more families are finding the money to keep their children at school longer. With better education comes the opportunity for better jobs.
There are now also more Indonesians attending universities both at home and in other countries (see image 3). This level of education exposes people to new ways of thinking about things and often challenges traditional morals and values. This is not always considered a good thing.
Population control is also a serious issue for Indonesia. With so many people living on just a few islands, Indonesians are encouraged to consider having fewer children in order to prevent the country from becoming overpopulated.
While better education does mean better jobs, it also means that more people are moving to the cities to look for jobs. As new manufacturing businesses open up, there are more jobs on offer. Cities in Indonesia can be very crowded and many people live in cramped conditions as they struggle to make a living. Unemployment can be a problem as a lot of people compete for a few jobs.
At the same time, in some of the more remote parts of Indonesia, traditional lifestyles are being threatened by new corporate ventures like mining and logging. These industries have a big impact on the local environment and can force people out of traditional homes and leave them struggling to survive.
Newer industries like tourism are starting to grow in Indonesia. While this is bringing a lot of money into the country, some tourists have a big impact on the environment. In some areas people are being moved out of their villages to make way for new tourist resorts.
Many tourists, however, are now visiting in order to see the wide variety of plants and animals that Indonesia has to offer. This is helping with projects designed to protect species that are in danger of becoming extinct.

Indonesians today are more involved in the political life of their country. Now that democratic elections are held regularly and people have more say in the running of the country, they are expecting more from their government (see image 4).
This has also been reflected in the Indonesian media. Old censorship laws have been changed and now allow Indonesian newspapers and other media greater freedom to inform the people. New technologies like the internet are also becoming more widely available and Indonesians now have access to areas of information that are new to them.
Life in Indonesia is changing rapidly and Indonesians are now trying to keep up with the modern world without losing the traditions that make them and their country unique.

~ copas dari:  http://www.skwirk.com.au

UNSUR BUDAYA MINAHASA

Kebudayaan Lama Dan Asli Masyarakat Kota Manado

Kebudayaan lama dan asli yang dibanggakan oleh masyarakat Kota Manado, yaitu :
Mapalus
Mapalus adalah bentuk gotong royong tradisional warisan nenek moyang orang Minahasa di Kota Manado yang merupakan suatu sistem prosedur, metode atau tehnik kerja sama untuk kepentingan bersama oleh masing-masing anggota secara bergiliran. Mapalus muncul atas dasar kesadaran akan adanya kebersamaan, keterbatasan akan kemampuannya baik cara berpikir, berkarya, dan lain sebagainya.
Rumah Panggung
Rumah panggung atau wale merupakan tempat kediaman para anggota rumah tangga orang Minahasa di Kota Manado, dimana didalamnya digunakan sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. Rumah panggung jaman dahulu dimaksudkan untuk menghindari serangan musuh secara mendadak atau serangan binatang buas. Sekalipun keadaan sekarang tidak sama lagi dengan keadaan dahulu, tapi masih banyak penduduk yang membangun rumah panggung berdasarkan konstruksi rumah modern.
http://images03.olx.co.id/ui/2/82/70/28688270_1.jpg 
Pengucapan Syukur
Pada masa lalu pengucapan syukur diadakan untuk menyampaikan doa atau mantra yang memuji kebesaran dan kekuasaan para dewa atas berkat yang diberikan sambil menari dan menyanyikan lagu pujian dengan syair yang mengagungkan. Saat ini pengucapan syukur di Kota Manado dilaksanakan dalam bentuk ibadah di gereja. Pada hari H tersebut setiap rumah tangga menyiapkan makanan dan kue untuk dimakan oleh anggota rumah tangga, juga dipersiapkan bagi para tamu yang datang berkunjung.
Tari Kabasaran
Tari kabasaran sering juga disebut tari cakalele, adalah salah satu seni tari tradisional orang Minahasa yang banyak dimainkan oleh masyarakat Kota Manado, yang biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti menyambut tamu dan pagelaran seni budaya. Tari ini menirukan perilaku dari para leluhur dan merupakan seni tari perang melawan musuh.
Tari Maengket
Tari maengket adalah salah satu seni tarian rakyat orang Minahasa di Kota Manado yang merupakan tari tontonan rakyat. Tarian ini disertai dengan nyanyian dan diiringi gendang atau tambur yang biasanya dilakukan sesudah panen padi sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Saat ini tari maengkat telah berkembang dalam masyarakat membentuk tumpukan-tumpukan dengan kreasi baru.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnBrPbcZkJruSe8nDRSznYFwqjTx6od2T2rOG8ApON4M_7PqplAnNTB_zy3fnlNylpKtVqWDklxYtson6lvVdEo-hy9Wz78nZanGGMB8PyDkSKDZcBKcVFLDtHv-HXm6lmXIKaRRnR1tw/s320/Maengket4.jpg
Musik Kolintang
Musik kolintang pada awalnya dibuat dari bahan yang disebut wunut dari jenis kayu yang disebut belar. Pada perkembangan selanjutnya, kolintang mulai menggunakan bahan kayu telor dan cempaka. Orkes kolintang sebagai produk seni musik tradisional bukan saja sebagai sarana hiburan, akan tetapi juga sebagai media penerapan pendidikan musik yang dimulai dari anak-anak sekolah di Kota Manado.


http://pesonamanado.files.wordpress.com/2009/06/artis-kolintang1.jpg?w=344&h=230

Musik Tiup Bambu
Musik tradisional ini berasal dari kepulauan Sangihe Talaud yang diciptakan oleh seorang petani pada tahun 1700. Pada awalnya musik bambu hanya merupakan alat penghibur bagi masyarakat petani setelah seharian melakukan aktivitas sebagai petani yang biasanya dibunyikan setelah selesai makan malam. Dewasa ini di Kota Manado, musik bambu telah menjadi salah satu jenis musik yang sering digunakan pada acara-acara tertentu agar menjadi lebih semarak dan bergengsi.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim_XITD0FQ4-4olP0wY5NrFM2BgNGa56GBaOOGDA0Ov_krndPRH3AuZZA5USxcV7LjrpTd0exEBTjo26xXt08XVVwxXmMYM0gvj6dL_F0GJY-9NlvWOxCELr-wm9ERopSNQaOQEEzX6wB5/s400/Festival+Figura+2009+023.jpg
Musik Bia
Bia adalah sejenis kerang atau keong yang hidup dilaut. Sekitar tahun 1941 seorang penduduk Desa Batu Minahasa Utara menjadikan kerang/keong sebagai satu tumpukan musik. Musik bia akhirnya telah menjadi salah satu seni musik tradisional yang turut memberikan nilai tambah bagi masyarakat Kota Manado. Dengan hadirnya musik ini pada pagelaran kesenian dan acara tertentu, telah menimbulkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik mancanegara maupun nusantara.

07/11 MAKNA KEHIDUPAN

Di zaman sekarang ini, manusia setiap hari tanpa henti untuk selalu memenuhi keinginannya belaka, walau dirinya kadang menyadari bahwa keinginan yang timbul tidak akan pernah dapat terpuaskan.
Mereka tidak lagi memperdulikan bahwa setelah kematian:
        Apa yang dibawa ?
                    Apa yang dilakukan ?
                            Kemana akan pergi?
                                    Dan bagaimana ?
Jika anda merasa telah memahaminya,
        berhati-hatilah.
Karena perasaan paham anda,
        sebenarnya adalah kemelekatan akan ketidak-tahuan.
Jika anda merasa tidak memahaminya,
        sebaiknya anda lebih berhati-hati.
Karena perasaan tidak memahami ini,
        sebenarnya adalah kebodohan akan ketidak-tahuan.
Lalu bagaimana kita seharusnya,
    agar terbebaskan dari kemelekatan dan kebodohan ?
Dapatkan anda menunjukan saya ?
Jika anda tidak tahu akan jawaban pertanyaan saya.
Jagalah KETIDAK-TAHUAN ini,
        maka KETIDAK-TAHUAN ini akan jernih dan jelas.
Jika anda memahami kejernihan dan kejelasan akan KETIDAK-TAHUAN ini,
        maka Kesadaran anda tetap jernih dan jelas.
Dengan Kesadaran tetap jernih dan jelas, maka:
        “Apa yang dibawa,
                    apa yang dilakukan,
                                kemana akan pergi,
                                         dan bagaimana ? “
akan jernih pula.
Maka anda akan memahami kebenaran alamiah kehidupan:
    Bagaimana menjalani kehidupan dunia & spiritual,
dengan menjalani kehidupan yang sebenarnya sebagai manusia. 
Tapi sangat disayangkan, tidak banyak manusia yang menjalani kehidupannya sebagai manusia yang sebenarnya.

07/11 QS. AL-BAQARAH (2) : 21

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

 Hai manusia, beribadalah kepada Tuhan kalian Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.


1). Setelah memaparkan 3 (tiga) golongan manusia—manusia taqwa (ayat 2-5), manusia kafir (ayat 6-7), dan manusia munafiq (ayat 8-20)—kini Allah menyeru kepada seluruh manusia untuk memilih menjadi manusia golongan pertama: manusia taqwa. Sekaligus Dia menjelaskan bahwa untuk menjadi manusia taqwa, caranya cuma satu: manusia harus beribadah kepada Rab-nya. Kenapa mesti kepada Rab? Karena Dia-lah Rabbul ‘alamyn, satu-satunya yang pantas menerima pujian di seluruh jagad alam (lihat kembali pembahasan di 1:2), yang berada dibalik penciptaan seluruh realitas, alam ghayb dan alam syahadah. Sementara manusia sendiri hanya tercipta dari dua unsur alam tersebut. Jasmani atau tubuh kasarnya tercipta dari alam syahadah (tanah), dan ruhani atau tubuh halusnya tercipta dari alam ghayb (ruh). Sehingga praktis tidak ada realitas yang menyusun penciptaan manusia yang keluar dari wilayah kekuasaan Rabbul ‘alamyn. Maka perintah penyembahan di ayat ini harus dimaknai sebagai seruan Allah kepada manusia agar mengharmonisasikan dirinya dengan seluruh realitas. 

2). Dari pembahasan poin 1 tadi bisa difahami bahwa perintah penyembahan—اعْبُدُواْ (I'buduw)—di ayat ini adalah dalam pengertiannya yang seluas-luasnya. Bukan dalam pengertiannya yang sempit, seumpama salat, puasa, haji, dan sebagainya, seperti banyak difahami oleh kebanyakan orang beragama dan penguasa. Karena kalau dibatasi hanya dalam pengertiannya yang sempit seperti itu, jelas tidak akan terjadi harmonisasi antara manusia dan seluruh realitas yang melingkupinya. Harmonisasi hanya terwujud manakala terjadi relasi paripurna di antara keduanya. Sekularisasi muncul justru dari pembatasan ruang lingkup ibadah. Makanya jangan pernah berharap kalau sekularisme bisa menciptakan hubungan harmonis antara manusia dan alam sekitarnya.

3) Kata النَّاسُ (annās, manusia) sebagai obyek seruan Allah, menunjukkan keumuman seruan tersebut. Artinya seluruh manusia, tanpa kecuali, kapanpun dan dimanapun, harus menerima seruan ini. Karena tanpa menerima seruan ini, manusia sendiri yang akan merasakan akibatnya, yaitu disharmonisasi dalam kehidupannya. Semakin besar disharmonisasi ini semakin fatal juga akibatnya bagi manusia dan kemanusiaan. Maka dari itu, ketika Allah menyebut diri-Nya sebagai Rab, Dia juga sekaligus menjelaskan seperti ini: الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ (Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu). Maksudnya, Allah menyampaikan seruan ini kepada manusia di sepanjang rentang sejarahnya. Perintah penyembahan inilah yang menjadi prinsip kesamaan tujuan diutusnya seluruh nabi dan rasul. Derajat akseptasi dan responsi terhadap seruan umum inilah nantinya yang kemudian melahirkan kekhususan yang disebut manusia takwa. Dengan demikian, tak terhindarkan di sini adanya strata. Dan inilah strata yang paling rasional, strata yang tidak akan melahirkan ketidakadilan dan kezaliman. Strata berdasarkan ketakwaan.

4). Penggunaan kata لَعَلَّكُمْ [la’alakum, mudah-mudahan kalian (menjadi manusia taqwa)] menghibur kita bahwa walaupun ibadah itu perintah langsung dari Allah, Rabbul ‘alamin, tetapi Dia sendiri membuka keran kebebasan itu seluas-luasnya kepada manusia: taat atau ingkar. Dan seandainya pun memilih untuk taat, Allah masih membuka peluang yang seluas-luasnya untuk melakukan ibadah (niat dan jenisnya) seperti apa. Karena toh derajat akseptasi dan responsi terhadap seruan ibadah inilah nantinya yang kemudian melahirkan strata paling rasional: manusia takwa. Kalau sifatnya dipaksakan, tentu tidak bisa lagi disebut strata paling rasional. Dan ini adalah tipologi perintah Allah berkaitan dengan ibadah (umum atau khusus).


AMALAN PRAKTIS
Apabila Anda selama ini beribadah kepada Allah karena merasa itu sebagai suatu kewajiban, maka saatnya sekarang Anda meninggalkan cara pandang seperti itu. Allah tidak butuh kepada ibadah Anda. Dia sudah sempurna dalam diri-Nya. Ibadah adalah kebutuhan pribadi Anda.

Tuesday, November 6, 2012

06/11 READ : RUTH 3 : 1 - 11

“There is a [grandson] born to Naomi.” And they called his name Obed. He is the father of Jesse, the father of David. —Ruth 4:17
 
Bible in a Year:
John 14-17
_________________________________________________
Widows in biblical times often faced a life of poverty. That’s the situation Ruth and her mother-in-law, Naomi, were in after each woman lost her husband. But God had a plan to provide security for them while involving Ruth as an integral part of a much bigger plan.

Boaz, a wealthy landowner, knew of and admired Ruth (Ruth 2:5-12), but he was surprised when he awoke one night to see her lying at his feet (3:8). She asked him to “spread the corner” of his garment over her to indicate that as a close relative he was willing to be her “kinsman-redeemer” (v.9 NIV). This was more than a request for protection; she was requesting marriage. Boaz agreed to marry her (vv.11-13; 4:13).
Not exactly your typical romantic tale. But Ruth’s choice to follow Naomi’s instructions (3:3-6) set up a series of events that placed her in God’s plan of redemption! From Ruth’s marriage to Boaz came a son (Obed), the eventual grandfather of King David (4:17). Generations later, Joseph was born to the family, and he became the “legal father” of Mary’s child (Matt. 1:16-17; Luke 2:4-5)—our Kinsman-Redeemer, Jesus.

Ruth trusted God and followed Naomi’s instructions even though the ending was uncertain. We too can count on God to provide for us when life is unsure.

Lord, give us humility and sensitivity to listen
to advice from loved ones who know You well.
Show us the right thing to do in our uncertain
times and to trust You for the results. Amen.
Fear hinders faith, but trust kindles confidence.

JANGAN BIARKAN DARAH MEMBAWAH SAMPAH

Jakarta - Kebanyakan orang masa kini, disebut pula manusia modern, terdeteksi mengalami peningkatan kekentalan darah. Jika darah sudah tidak encer lagi alias tersumbat “sampah” dari efek mengonsumsi sembarang makanan dalam pola hidup tidak sehat,  sebaiknya harus waspada. Lebih baik memperhatikan asupan makanan dan gizi, juga menerapkan gaya hidup sehat.

Menurut Master of Science in Holistic Frederick S Waworuntu, darah memiliki berbagai fungsi, salah satunya “sarana” transportasi. Darah akan membawa zat makanan dan oksigen ke semua sel dalam tubuh. Fungsi ini bisa berjalan lancar apabila semua unsur yang dibutuhkan tubuh terpenuhi.
“Kalau darah mengental, mobilitas darah pun menjadi pelan. Bahkan, asupan nutrisi, gizi, dan oksigen tidak sampai terbawa ke sel dan jaringan. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, seperti stroke dan jantung,” kata dia di Jakarta, kemarin.

Menurut Frederick, ada lima hal yang dibutuhkan jaringan darah sebagai alat transportasi, antara lain oksigen negatif, air, nutrisi, proses pembuangan sampah, dan bebas racun. Oksigen negatif hanya bisa dihasilkan tumbuhan, di antaranya pinus yang kebanyakan tumbuh di daerah pegunungan. Sementara menghirup oksigen positif akan menghabiskan cadangan antioksidan dalam tubuh.

 "Dua hari tubuh kehilangan air, maka sel mulai mati. Darah akan mengental apabila nutrisi tidak seimbang. Empat belas sampai tujuh belas hari kehilangan nutrisi atau makanan, maka seseorang bisa meninggal. Apabila metabolisme normal,tubuh akan mengeluarkan toksin. Darah harus bersih dari ‘sampah’,” ujar dia.

Frederick menyebutkan, berbagai penyebab kekentalan darah, antara lain mengonsumsi lemak jenuh secara berlebihan, protein hewani, karbohidrat sederhana (seperti zat tepung, gandum), zat adiktif (pewarna, pengawet, pengembang), kurang konsumsi air, serta paparan stress dan polutan.

“Kopi bisa menjadi obat. Namun, apabila banyak dikonsumsi setiap hari bisa menjadi masalah. Soft drink tidak bisa memenuhi kebutuhan tubuh terhadap air. Racun pada soft drink bahkan lebih parah dibandingkan kopi. Selain menjaga pola makan, kita mesti menjalankan manajemen stres,” ujar dia.

Sebuah penelitian menyebutkan, bahwa cryptomonadales chlorella sorokiniana alias alga supermini mengandung senyawa aktif lengkap, seperti fikosianin, chlorella growth factor, dan peroxisome proliferator activated reseptors (PPARs). Bilangan basa tanaman ini amat tinggi sehingga mampu mengencerkan darah secara alami. “Cryptomonadales membantu membersihkan darah dari toksin serta mengencerkan darah kurang lebih dalam 21 hari,” kata Frederick.
Dia mengungkapkan, kebanyakan orang cek darah enam bulan sekali. Namun, melihat gaya hidup modern, sebaiknya hal itu dilakukan empat bulan sekali guna memonitor penyakit degeneratif berkembang. Gejala awal darah mengental di antaranya pegal linu hingga sakit kepala.

Berdasarkan penelitian terhadap 30 individu, 30 tablet cryptomondales dapat menurunkan tingkat kolesterol dan low-density lipoprotein (LDL) sebesar 15% setelah satu bulan pemakaian. Alga hijau ini juga mengandung bahan bahan yang efektif untuk menghambat pertumbuhan sel kanker.

Ada tiga produk cryptomondales yang ditawarkan Smartlife, yaitu crypto force, crypto max, dan crypto PPARs. Crypto force merupakan makanan utuh yang mengandung protein, karbohidrat, GLA, serat, fikosianin, klorofil, asam nukleat, DNA, RNA, dan berbagai jenis vitamin dan enzim. Mengonnsumsi lima tablet crypto force sama dengan mengonsumsi 1 kg sayuran organik. Crypto max mengandung ekstrak asam nukleat dari cryptomonadales yang merupakan bahan baku untuk membentuk sel. Jika dikonsumsi, dapat merangsang pertumbuhan sel dan meningkatkan vitalitas tubuh. Adapun crypto PPARs merupakan molekul yang akan menjadi terobosan utama dalam penanganan masalah medis. PPARs berpotensi membantu metabolisme lemak, keseimbangan glukosa, anti-radang, regulasi daya tahan tubuh, dan diferensiasi sel (kanker).

Network Director Smartlife, Willy Taruna, mengungkaopkan, Smartlife menjadi satu-satunya distributor cryptomonadales. Cryptomonadales banyak mengandung vitamin, mineral, trace element, dan berbagai nutrisi mikro yang tidak dikandung jenis chlorella lain. Dengan mengonsumsinya secara teratur, tubuh akan semakin merasa lebih sehat.
(IZN - pdpersi.co.id)