Showing posts with label DAILY BREAD. Show all posts
Showing posts with label DAILY BREAD. Show all posts

Saturday, November 10, 2012

10/11 BACA : MATIUS14 : 22 - 33


Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” —Matius 14:27

Kisah Para Rasul 6 - 9

________________________________________________________

Kala Ketakutan Menghadang

Saya tidak akan pernah melupakan ketakutan yang saya alami pada masa kecil saya. Begitu lampu kamar saya dipadamkan, tumpukan baju di kursi saya akan berubah menjadi sebentuk bayangan mirip naga. Pengalaman masa kanak-kanak saya dengan insomnia yang dipicu oleh ketakutan tersebut mengingatkan saya bahwa ketika masalah menghadang jalan hidup kita, ketakutan pun menjadi musuh kita. Ketakutan membuat kita tidak mampu bergerak maju dan menjadikan kita merasa ciut untuk melakukan apa yang benar—kecuali jika mata kita tertuju kepada Yesus.

Ketika para murid menghadapi amukan badai laut yang mengancam akan menenggelamkan mereka, Yesus, yang sedang berjalan di atas air meyakinkan mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27). Dan kepada para pengikut-Nya yang mengunci diri karena ketakutan setelah penyaliban-Nya, Yesus menampakkan diri dan bertanya, “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?” (Luk. 24:38). Karena Yesus memahami bahwa pencobaan itu tidak dapat dihindari, Dia berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Maksud Yesus jelas: Mempercayai kehadiran dan kuasa-Nya adalah senjata untuk melawan ketakutan.

Seperti yang dikatakan dalam sebuah himne, “Pandanglah pada Yesus; Oh, pandang wajah-Nya mulia. Isi dunia menjadi suram, oleh sinar kemuliaan-Nya.” Kita dapat merasakan damai sejahtera dengan kesadaran bahwa Allah memang beserta kita. —JMS

Tuhan, di saat-saat kami lemah dan ketakutan, ingatkan kami
bahwa kasih-Mu bagi kami menjadi jaminan atas penyertaan-Mu
dan kuasa-Mu untuk mengatasi segala ketakutan kami.
Ajar kami untuk percaya kepada-Mu.

Percayalah pada kehadiran dan kuasa Yesus pada saat Anda menghadapi badai kehidupan.

Friday, November 9, 2012

09/11 BACA : 1 YOHANES 4 : 7- 11

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. —1 Yohanes 4:11

 
Kisah Para Rasul 3 - 5
__________________________________________________

Keharuman


Dengan gugup Katie menghadiri suatu persekutuan kelompok pemuda gereja karena Linda telah mengundangnya. Katie sudah lama tidak beribadah di gereja sejak ia masih anak-anak, dan ia juga tidak dapat membayangkan seperti apa makan malam di hari Valentine bersama orang-orang yang sebagian besar tidak dikenalnya. Namun hatinya mulai tenang ketika melihat di atas piringnya terdapat kartu-kartu ucapan untuknya yang ditulis oleh setiap orang yang hadir. Mereka juga menulis kartu ucapan untuk satu sama lain, tetapi yang membuat Katie tersentuh adalah mereka juga melakukannya untuk seorang pendatang baru dalam kelompok itu seperti dirinya.


Katie merasa diterima dengan sangat baik, sehingga ia menerima undangan Linda untuk mengikuti kebaktian di gereja. Di sana Katie mendengar tentang kasih Allah baginya meski ia adalah orang berdosa, dan ia pun menerima pengampunan dari Yesus. Kelompok pemuda itu telah menolong Katie merasakan keharuman kasih Allah, dan Allah membuka hati Katie untuk percaya kepada-Nya.


“Jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi,” kata Rasul Yohanes (1 Yoh. 4:11). Itulah kasih bagi saudara-saudara seiman kita dan juga bagi mereka yang belum mengenal Kristus. Ray Stedman menulis, “Saat kasih Allah menyinari hati kita, kita menjadi semakin terbuka terhadap orang lain, membiarkan keharuman kasih itu menyeruak dan memikat orang-orang di sekitar kita.” Itulah yang dilakukan kelompok pemuda tersebut bagi Katie.


Allah pun dapat menebarkan keharuman kasih-Nya melalui diri kita hari ini. —AMC

Tuhan, aku sangat bersyukur karena Engkau mengasihiku terlebih dahulu, sehingga aku bisa mengasihi orang lain. Tebarkanlah keharuman kasih-Mu melalui diriku agar terpancar dan menyentuh setiap orang yang kujumpai hari ini. Amin.

Hidup yang saleh itu bagaikan keharuman yang memikat orang lain kepada Kristus.

Thursday, November 8, 2012

08/11 BACA : KOLOSE 3 : 8 - 17

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. —Kolose 3:12
Kisah Para Rasul 1 -2

______________________________________________________

Warisan



Suatu hari istri saya menelepon saya di kantor dan mengatakan, “Sesuatu telah menimpa tetangga kita. Ada banyak orang di sana.” Mengingat pekerjaan tetangga saya, saya khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi, dan segera saja kekhawatiran saya terbukti. Tetangga kami, Trevor Slot adalah seorang polisi dan ia baru saja terbunuh dalam tugasnya ketika berusaha menghentikan dua orang perampok bank yang mencoba kabur. Lingkungan kami pun terguncang.

Trevor tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan kepergiannya. Namun demikian, ia telah siap. Ia memiliki iman yang teguh di dalam Kristus dan dikenal sebagai seorang pria yang mengagumkan. Dalam upacara pemakaman yang dihadiri oleh ratusan rekan seangkatannya, rekan kerja Trevor, Detektif Brandyn Heugel mengatakan, “Trevor adalah seorang polisi yang setia mengabdi. Namun yang paling penting dan utama, ia adalah seorang suami yang penuh kasih bagi Kim dan seorang ayah yang penyayang bagi Kaitlyn dan Abbie.” Seluruh kata penghormatan terakhir bagi Trevor terpusat pada kepribadiannya yang luar biasa dan kasih serta perhatiannya bagi keluarganya.

Kehidupan Trevor merupakan penerapan dari ayat Kolose 3:12-13, “Kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain.” Sifat-sifat itu akan meninggalkan warisan yang memberi ilham bagi sesama.

Kita tidak tahu kapan Allah akan memanggil kita pulang, tetapi kita tahu ini dengan pasti: Setiap hari merupakan suatu kesempatan untuk mewariskan kesaksian yang nyata dari iman kita. —JDB
Kiranya penerus kita melihat betapa kita telah setia;
Kiranya api pengabdian kita menerangi jalan mereka;
Kiranya jejak yang kita tinggalkan membuat mereka percaya,
Dan hidup yang kita jalani mengilhami mereka untuk taat. —Mohr
Setiap hari, kita menambahkan nilai pada warisan kita, entah yang baik atau yang buruk.

Wednesday, November 7, 2012

07/11 BACA : MAZMUR 119 : 9 - 16

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. —Mazmur 119:11
 
Yohanes 18 - 21
___________________________________________________________

Dari Kepala Turun Ke Hati

Guru piano saya ketika saya masih kecil adalah seorang yang sangat mementingkan hafalan. Menurutnya, mampu memainkan satu lagu tanpa kesalahan belumlah cukup. Saya harus memainkan beberapa lagu tanpa kesalahan dengan mengandalkan ingatan saya. Alasan guru saya adalah ia tidak ingin ketika murid-muridnya diminta untuk memainkan lagu, mereka sampai berkata, “Maaf, buku musik saya ketinggalan.”

Sebagai anak-anak, saya juga menghafalkan ayat-ayat Alkitab, termasuk Mazmur 119:11. Karena tidak mengerti betul apa maksudnya, saya meyakini bahwa menghafal ayat saja akan dapat menjauhkan saya dari dosa. Saya berupaya keras menghafalkan ayat demi ayat, bahkan saya memenangi hadiah sebuah Alkitab bergambar karena kemampuan saya menghafal.

Meski menghafalkan ayat Alkitab adalah kebiasaan yang baik untuk dipupuk, bukan tindakan menghafal itu sendiri yang dapat menjauhkan kita dari dosa. Segera setelah memenangi lomba menghafal tersebut, saya menyadari bahwa meski ada banyak ayat Alkitab yang terekam dalam otak saya, perilaku saya tidak banyak berubah. Sebaliknya, pengetahuan saya yang banyak itu justru menimbulkan perasaan bersalah, bukan kemenangan atas dosa.

Akhirnya saya sadar bahwa firman Allah haruslah menyebar dalam kehidupan diri saya seluruhnya. Saya perlu menghayati Kitab Suci dengan menyimpannya di dalam hati, seperti yang dilakukan seorang musisi ketika memainkan sebuah lagu. Saya harus menghidupi Alkitab sebaik saya menghafalkannya. Ketika firman Allah turun dari kepala ke hati, kuasa dosa atas diri kita pun melemah. —JAL
Ya Tuhan, Allahku, kiranya firman-Mu benar-benar menjadi
bagian dari hidupku sehingga aku mau taat dengan
hati yang penuh kesungguhan dan sukacita.
Ubah dan bentuklah aku sesuai dengan gambaran-Mu.
Kiranya firman Allah mengisi pikiran Anda, menguasai hati Anda, dan menuntun hidup Anda.
 

Tuesday, November 6, 2012

06/11 READ : RUTH 3 : 1 - 11

“There is a [grandson] born to Naomi.” And they called his name Obed. He is the father of Jesse, the father of David. —Ruth 4:17
 
Bible in a Year:
John 14-17
_________________________________________________
Widows in biblical times often faced a life of poverty. That’s the situation Ruth and her mother-in-law, Naomi, were in after each woman lost her husband. But God had a plan to provide security for them while involving Ruth as an integral part of a much bigger plan.

Boaz, a wealthy landowner, knew of and admired Ruth (Ruth 2:5-12), but he was surprised when he awoke one night to see her lying at his feet (3:8). She asked him to “spread the corner” of his garment over her to indicate that as a close relative he was willing to be her “kinsman-redeemer” (v.9 NIV). This was more than a request for protection; she was requesting marriage. Boaz agreed to marry her (vv.11-13; 4:13).
Not exactly your typical romantic tale. But Ruth’s choice to follow Naomi’s instructions (3:3-6) set up a series of events that placed her in God’s plan of redemption! From Ruth’s marriage to Boaz came a son (Obed), the eventual grandfather of King David (4:17). Generations later, Joseph was born to the family, and he became the “legal father” of Mary’s child (Matt. 1:16-17; Luke 2:4-5)—our Kinsman-Redeemer, Jesus.

Ruth trusted God and followed Naomi’s instructions even though the ending was uncertain. We too can count on God to provide for us when life is unsure.

Lord, give us humility and sensitivity to listen
to advice from loved ones who know You well.
Show us the right thing to do in our uncertain
times and to trust You for the results. Amen.
Fear hinders faith, but trust kindles confidence.

Monday, November 5, 2012

05/11 BACA : KOLOSE 3 : 18; 4 : 1

Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga. —Kolose 4:1
 
Yohanes 11 - 13
_______________________________________________________

Lebih Dari Sekedar Adil Dan Jujur 

 

Pada abad ke-19, kondisi kerja di Inggris begitu mengerikan. Pria, wanita, dan anak-anak bekerja di pabrik-pabrik yang berbahaya sepanjang hari, dan malam harinya pulang ke pemukiman yang kumuh dan padat. Banyak pemilik pabrik yang tidak peduli dengan kesejahteraan karyawan mereka.


Namun pada masa itu, para pemilik pabrik cokelat Cadbury punya sikap yang berbeda. Sebagai penganut keyakinan Quakers (suatu aliran gereja Kristen) dan wirausahawan yang ahli, mereka memusatkan perhatian untuk memperbaiki kondisi kerja dari 200 orang karyawan mereka. Keluarga Cadbury membangun sebuah pabrik yang canggih dengan tempat ganti pakaian yang memiliki penghangat ruangan, sebuah dapur, dan tempat untuk bersantai. Dan untuk memenuhi kebutuhan rohani para karyawan, setiap hari kerja diawali dengan pendalaman Alkitab.


Kolose 4:1 berkata, “Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga.” Jelas bahwa keluarga Cadbury berupaya untuk memperlakukan karyawan mereka dengan adil dan jujur. Namun sudut pandang surgawi yang dimiliki keluarga Cadbury memotivasi mereka untuk melangkah lebih jauh dengan memenuhi kebutuhan fisik dan rohani karyawan mereka.
Kita mungkin tidak memiliki perusahaan, tetapi kita berhubungan dengan beragam orang setiap harinya. Sebagai orang percaya, penting bagi kita untuk bersikap etis dalam pergaulan kita. Dengan kemampuan yang Tuhan berikan, kita juga dapat mempedulikan kesejahteraan sesama melalui doa, dukungan dan dorongan semangat, serta upaya memenuhi kebutuhan jasmani mereka (Gal. 6:10). —HDF

Tuhan, terima kasih karena Engkau mengasihi dan memenuhi
kebutuhan kami. Engkau sering membawa orang yang membutuhkan
kasih dan pemeliharaan-Mu ke dalam hidup kami. Beri kami hikmat
untuk menolong mereka agar kami dapat membagikan kebaikan-Mu.

Allah memberkati kita supaya kita dapat memberkati orang lain.

Sunday, November 4, 2012

04/11 BACA : YOHANES 9 : 1-11, 24-25

Satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat. —Yohanes 9:25
 
Yohanes 7 - 10
______________________________________________________

Kesaksian Singkat



Selama lima belas tahun terakhir, nama dan wajah Dan Smith telah muncul pada selebaran di warung kopi, tempat cuci pakaian swalayan, dan toko-toko kecil lainnya di seputar kota New York. Dalam setiap selebaran tercantum slogan singkat yang bertuliskan: Dan Smith akan Mengajarimu Bermain Gitar. Hasilnya, usaha Smith mengajar murid-muridnya cara memainkan gitar selalu saja ramai. Banyak muridnya yang bangga kemudian menempelkan selebaran tersebut di tempat-tempat lain. Itulah cara mereka untuk menyampaikan, “Dan Smith mengajariku bermain gitar. Dia juga dapat mengajarimu.”


Halaman demi halaman dari Alkitab dipenuhi kisah tentang orang-orang dan apa yang telah dilakukan Allah bagi mereka. Salah satu kisah yang paling nyata ditemukan dalam Yohanes 9. Yesus menjumpai seorang pria yang buta sejak lahir, dan melalui mukjizat Yesus membuatnya melihat (ay.1-7). Setelah para pemimpin agama yang skeptis itu berulang-ulang menanyainya, pria itu hanya dapat berkata, “Satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat” (ay.25).


Jika Anda punya kesaksian singkat untuk mengungkapkan apa yang telah Kristus lakukan bagi Anda dan yang dapat dilakukan-Nya bagi orang lain, apa yang akan Anda katakan? Mungkin seperti ini, “Yesus Kristus akan mengampuni dosa Anda,” atau “. . . memberi Anda pengharapan” atau “. . . menyelamatkan jiwa Anda.” Ketika Yesus mengubah hidup kita, kita menegaskan kuasa-Nya untuk melakukan bagi orang lain apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita.


“Aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” —DCM

Tak tersembunyi kuasa Allah.
Kalau lain ditolong, saya juga.
Tangan-Nya terbuka, menunggulah
Tak tersembunyi, kuasa Allah. —Hamblen
(Pujian Bagi Sang Raja, No. 283)

Kita adalah surat rekomendasi Kristus bagi siapa pun yang membaca hidup kita.

Saturday, November 3, 2012

03/11 BACA : YOHANES 6 : 44 - 59

 Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, . . . tidak tahu ke mana ia pergi. —1 Yohanes 2:11


Bacaan Untuk Setahun: 
Yohanes 4 - 6
_____________________________________________________ 

Soal Peta Yang Sesungguhnya


Alat GPS (Global Positioning System—alat penunjuk arah berdasarkan satelit) adalah sarana terbaru bagi orang yang bepergian untuk menemukan rute terbaik guna mencapai tujuan mereka. Namun saya dan suami masih suka cara lama untuk memandu perjalanan kami, yaitu dengan menggunakan peta. Karena Jay yang biasanya memegang setir, saya otomatis menjadi pembaca peta. Biasanya saya tidak sulit menemukan arah, tetapi ketika mobil sedang berjalan, saya sering mendapat kesulitan. Meski mengetahui tujuan akhir kami, saya tidak dapat menemukan jalan terbaik untuk mencapai ke sana jika kami tidak berhenti untuk melihat di mana kami sedang berada. Saya perlu tahu di mana posisi saya.


Hal ini juga dapat terjadi dalam kehidupan rohani kita. Ketika berusaha mencari tahu ke mana Allah ingin kita pergi, kita perlu berhenti dan melihat posisi rohani kita. Jika tidak, kemungkinan kita akan menjadi tersesat di berbagai tempat, situasi, atau hubungan yang tidak kita inginkan.


Dalam tindakan-Nya menolong para murid menjalani kehidupan dan menyusuri jalan dengan melalui beragam jebakan dan godaan dunia, Yesus sering mengatakan “jangan” kepada mereka. “Jangan bersungut-sungut,” “jangan menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil,” dan “jangan tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh. 6:43; 7:24; 20:27). Untuk mengikut Yesus, kita sering harus berhenti ketika melakukan sesuatu yang salah. Pada saat kita bergantung kepada panduan Allah, kita akan belajar berjalan mengikuti arah yang benar menurut-Nya. —JAL

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku
dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong,
dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
—Mazmur 139:23-24

Jalan Allah adalah jalan yang benar untuk dilalui.

Friday, November 2, 2012

02/11 BACA : 1 PETRUS 5 : 1 9

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. —1 Petrus 5:8
 
Yohanes 1 - 3
___________________________________________________

Dibangunkan



Suatu pagi di musim gugur, ketika hari masih gelap dan saya sedang mengendarai mobil menuju ke tempat kerja, saya dikejutkan oleh sekelebat bayangan berwarna cokelat yang terkena terpaan sinar lampu depan mobil saya, diikuti dengan suara sesuatu tertabrak di bagian depan mobil saya. Saya telah menabrak seekor rusa dengan kecepatan 110 kilometer per jam! Itu hanya serempetan kecil, dan mobil saya (dan sepengamatan saya, juga rusa itu) tidak apa-apa. Namun, saya sungguh merasa terkejut. Saya berkendara dengan cara yang sudah biasa saya lakukan karena saya sudah mengenal arah jalan menuju ke kantor, tetapi perasaan terguncang karena kejadian tersebut benar-benar membangunkan saya. Kini saya sepenuhnya tersadar dan berusaha menenangkan jantung saya yang berdetak kencang. Sungguh suatu cara membangunkan yang paling tidak menyenangkan yang pernah saya alami.

Petrus membangunkan kita dengan cara yang berbeda—cara yang tidak menyenangkan, tetapi sangat diperlukan. Petrus memperingatkan bahwa kita terlibat dalam peperangan rohani melawan musuh yang kuat. Ia mengingatkan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Ptr. 5:8). Peringatan ini membangunkan kita, membuat kita melihat bahaya yang ada dan bersiap siaga untuk menghadapi serangannya!

Hanya ketika menyadari adanya bahaya yang menghadang kita setiap hari, maka kita akan dengan sadar mencari pertolongan yang dibutuhkan. Hanya jika kita waspada, kita akan bersandar kepada kekuatan dari Tuhan yang lebih besar dari musuh rohani kita. —WEC
Meski kejahatan ada di sekitar kita,
Kita tak perlu takut akan dikalahkan;
Karena saat Allah berperang bagi kita,
Semua musuh pun mundur. —Sper
Hidup orang Kristen adalah suatu medan pertempuran.

Thursday, November 1, 2012

01/11 BACA : MAZMUR 22 : 1 - 9; 20 - 27

Orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! —Mazmur 22:27
 
Lukas 22 - 24
_________________________________________________________

Merasa Ditinggalkan?


Tahukah Anda, mazmur mana yang paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru? Mungkin tebakan Anda adalah Mazmur 23 yang paling favorit dan terkenal, tetapi sebenarnya yang paling sering dikutip adalah Mazmur 22. Mazmur ini diawali dengan perkataan Daud yang emosional dan menyedihkan, yang dikutip Yesus ketika tergantung di kayu salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46; Mrk. 15:34).

Bayangkan situasi yang telah dialami Daud yang menyebabkannya sampai berseru kepada Allah dengan cara seperti itu. Perhatikan bagaimana ia merasa ditinggalkan dan dicampakkan: “Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mzm. 22:2). Ia juga merasa diabaikan: “Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab” (ay.3).

Apakah Anda pernah mengalami situasi yang sama seperti yang dialami Daud? Apakah Anda pernah menatap ke langit dan bertanya-tanya mengapa sepertinya Allah telah meninggalkan atau mengabaikan Anda? Itulah yang dirasakan Daud. Namun untuk setiap tangisan sedih yang diungkapkan Daud, tersebut sifat Allah yang telah menyelamatkannya dari keputusasaan. Ketika Daud mengalaminya, ia menyadari bahwa Allah itu kudus (ay.4), dapat dipercaya (ay.5-6), penolong dan penyelamat (ay.9, 21-22), dan kuat (ay.20).

Apakah Anda merasa ditinggalkan? Carilah Tuhan. Pelajari karakter-Nya. Dan “biarlah hatimu hidup untuk selamanya!” (ay.27). —JDB
Tuhan, terkadang aku merasa seolah Kau tak mempedulikan hidupku.
Ketika aku mengalami perasaan itu, tolong ingatkan aku tentang
sifat-Mu seperti yang Kau lakukan kepada Daud. Tolong aku untuk
bersandar kepada-Mu lagi dan tahu bahwa Kau menyertaiku.
Sekalipun kita tidak merasakan kehadiran Allah, kasih pemeliharaan-Nya ada terus bersama kita.

Wednesday, October 31, 2012

31/10 BACA: MAZMUR 32 : 1 - 11



Aku berkata: “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. —Mazmur 32:5
Lukas 18-21
__________________________________________________________

Sesuatu  Yang Disembunyikan


Jika Anda memiliki sesuatu untuk disembunyikan, Mike Slattery mungkin punya jalan keluarnya. Beberapa tahun silam, sebuah perusahaan telepon seluler ingin mendirikan antena di atas tanah milik Mike dan menyamarkannya seperti sebatang pohon pinus. Mike punya gagasan yang lebih baik dan membangun sebuah lumbung palsu dengan panel-panel vinil (serat sintetis yang tahan api) yang membuatnya dapat dilewati gelombang radio. Lalu ia mengembangkan konsep tersebut dan membangun suatu perusahaan yang mendirikan bangunan untuk menyembunyikan antena demi alasan estetika dan keamanan. Mike yakin bahwa banyak tetangganya masih tidak tahu apa yang terdapat di dalam lumbungnya (dari surat kabar The Gazette, Colorado Springs).
Kebanyakan dari kita berusaha menyembunyikan sesuatu. Hal itu bisa jadi adalah sesuatu yang tidak berbahaya seperti barang rongsokan di ruang bawah tanah atau sebaliknya sesuatu yang beracun seperti kejatuhan moral dan rohani yang kita coba sembunyikan dari orang lain, dari diri sendiri, dan bahkan dari Allah.
Dalam Mazmur 32, Daud menggambarkan kesia-siaan usahanya untuk menutupi dosanya (ay.3-4) dan kelegaan yang diterimanya setelah ia mengakui isi hatinya kepada Tuhan: “‘Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,’ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku” (ay.5).
Mengakui dosa-dosa kita kepada Allah dan meninggalkan semua itu akan memberikan kelegaan bagi jiwa kita dan kesadaran bahwa tidak ada sesuatu pun yang perlu kita sembunyikan. —DCM

Tuhan Yesus, tolonglah aku datang kepada-Mu
Saat aku tergoda untuk pergi dan menyembunyikan
Jalan hidupku yang berdosa dan bebal;
Ampuni dan sucikan kembali batinku. —Sper
Kapan pun kita siap untuk mengungkapkan dosa-dosa kita, Allah siap untuk mengampuninya.

Tuesday, October 30, 2012

30/10 READ : 1 KINGS 11 : 1 - 13

Shine as lights in the world, holding fast the word of life. —Philippians 2:15-16
Bible in a Year:
Luke 14-17
_____________________________________________________
As I waited to make a right-hand turn at a busy intersection, an ambulance appeared over the crest of a hill, speeding in my direction. Someone behind me honked, urging me into the crossroads. I knew the ambulance would be unlikely to stop and that it could have been disastrous to make my turn. So I kept my foot on the brake pedal and stayed put.


Spiritually speaking, we need to “stay put” and remain faithful to God despite pressure from others. King Solomon had to learn this the hard way. He began his reign by asking God for wisdom (1 Kings 3:9), and his prayer at the dedication of the temple revealed his loyalty (8:23,61). But he did not remain committed. He married many foreign women who eventually influenced him to worship other gods. By the end of his life, his “heart was not loyal to the Lord” (11:1-6; Neh. 13:26).


Today, just as in ancient times, people may prompt us to shift our loyalty away from God and His truth. Yet with God’s help we can hold fast to the word of life (Phil. 2:16). If you feel pressured to enter a dangerous intersection of beliefs, study God’s Word, put on His armor (Eph. 6:10-18), and ask the Holy Spirit for help (1 Cor. 2:10-12). Then stand fast with your fellow believers in Christ.


Stand up, stand up for Jesus,
Stand in His strength alone;
The arm of flesh will fail you—
Ye dare not trust your own. —Duffield
To avoid being pulled into error, keep a firm grip on the truth.

Monday, October 29, 2012

29/10 BACA: MATIUS 9 : 27 - 38

Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka. —Matius 9:36
 
Lukas 10-13
_____________________________________________________

Memberi Pengaruh


Kisah Elizabeth sangatlah menyentuh. Setelah mengalami suatu peristiwa yang sangat memalukan dirinya di Massachusetts, Elizabeth naik bus ke New Jersey untuk menyembunyikan rasa malunya. Karena terisak-isak tanpa terkendali, ia tidak memperhatikan bahwa bus itu telah berhenti di suatu tempat. Ada seorang penumpang pria yang sama sekali tak dikenal Elizabeth telah duduk di belakangnya sepanjang perjalanan. Ketika pria itu akan turun dari bus, tiba-tiba ia berhenti, berbalik, dan berjalan mendekati Elizabeth. Ia melihat air mata Elizabeth lalu memberikan Alkitabnya seraya berkata bahwa mungkin Elizabeth membutuhkan Alkitab itu. Pria itu benar. Elizabeth tidak hanya membutuhkan Alkitab, ia juga memerlukan Kristus yang disebutkan di dalam Alkitab. Sebagai dampak dari tindakan belas kasihan yang sederhana dari seorang asing yang murah hati itu, Elizabeth menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.


Yesus adalah teladan kita dalam hal berbelaskasihan. Di Matius 9, kita membaca, “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (ay.36). Tuhan kita tidak hanya memperhatikan derita dan rasa sakit dari orang yang hancur hati, Dia juga menanggapinya dengan menantang pengikut-Nya untuk berdoa kepada Bapa supaya mengirim pekerja untuk menolong mereka yang menderita dan menjawab kebutuhan dunia yang sekarat ini (ay.38).


Dengan Kristus sebagai teladan, kita dapat memiliki hati yang berbelaskasihan bagi orang-orang yang tak bergembala dan terdorong untuk memberikan pengaruh dalam hidup sesama. —WEC

Bapa, buka mataku untuk melihat penderitaan dan pergumulan
orang lain. Lalu buka hatiku untuk menanggapi mereka
sehingga melalui diriku mereka bisa melihat
Engkau dan kasih-Mu. Amin.

Dunia yang putus asa membutuhkan orang-orang Kristen yang peduli.

Sunday, October 28, 2012

28/10 BACA: KISAH PARA RASUL 17:22-31

Sesungguhnya Tuhan ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya. —Kejadian 28:16

 
Lukas 7
_____________________________________________________



Sebuah lagu populer bertahun-tahun lalu yang berjudul From a Distance (Dari Jauh) menggambarkan suatu dunia yang harmonis dan damai. Liriknya mengatakan, “Allah mengawasi kita dari jauh.” Memang benar Allah mengawasi kita, tetapi bukan dari jauh. Dia hadir, dalam ruangan bersama Anda, tepat di hadapan Anda, menatap Anda dengan kasih yang tak terbatas dalam mata-Nya.


Saya terpikir tentang teladan dari biarawan Lawrence, yang selama bertahun-tahun bekerja di dapur untuk mencuci mangkok dan panci, dan memperbaiki sandal milik para biarawan lain. Ia menulis: “Sesering yang saya mampu, saya menempatkan diri sebagai penyembah di hadapan-Nya, mengarahkan pikiran saya pada kehadiran-Nya yang kudus.”


Itu menjadi tugas kita juga. Namun kita lupa dan terkadang perlu pengingat tentang kehadiran-Nya. Saya telah menancapkan sebatang paku tua pada rak di atas meja saya untuk mengingatkan saya bahwa Yesus yang telah disalibkan dan dibangkitkan itu senantiasa hadir. Tugas kita adalah mengingat untuk “senantiasa memandang kepada Tuhan” (Mzm. 16:8)—untuk menyadari bahwa Dia menyertai kita sampai kepada “akhir zaman” (Mat. 28:20) dan bahwa Dia “tidak jauh dari kita masing-masing” (Kis. 17:27).


Tindakan mengingat ini mungkin sesederhana menyegarkan kembali ingatan kita bahwa Tuhan telah berjanji untuk menyertai Anda di sepanjang hari dan berkata kepada-Nya, “Selamat Pagi,” atau “Terima Kasih,” atau “Tolong!” atau “Aku mengasihi-Mu, Tuhan.” —DHR

Begitu dekat, sangat dekat dengan Allah—
Aku tak bisa lebih dekat lagi:
Namun melalui pribadi Putra-Nya,
Aku dekat, sedekat Putra-Nya itu. —Paget

Allah itu jauh lebih dekat daripada sahabat kita yang terdekat sekalipun.

Saturday, October 27, 2012

27/10 BACA : YEREMIA 17 : 5 - 10

 TITANIC II

Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan! —Yeremia 17:5

Bacaan Untuk Setahun: Lukas 4-6

______________________________________________________



Mark Wilkinson membeli sebuah kapal yang panjangnya 4,8 meter untuk aktivitas memancing dan rekreasi. Tampaknya ia bukan orang yang percaya takhayul, karena ia menamai kapalnya Titanic II, sama seperti nama kapal mewah malang yang menabrak gunung es dan tenggelam pada tahun 1912. Awalnya pelayaran perdana Titanic II dari pelabuhan di Dorset, Inggris, berjalan lancar. Namun ketika Wilkinson menempuh perjalanan pulang, kapalnya mulai kemasukan air. Tak lama kemudian ia ditemukan sedang berpegang erat pada sebuah tiang sambil menanti pertolongan. Konon Wilkinson berkata, “Betapa memalukannya, dan saya agak kesal dengan orang yang bertanya apakah saya telah menabrak gunung es.” Masih ditambah cerita dari seorang saksi mata yang mengatakan, “Itu bukan kapal yang sangat besar—kupikir sebutir es batu pun bisa menenggelamkannya!”

Kisah Titanic II ini cukup ironis. Namun ini juga membuat saya berpikir tentang Titanic yang asli dan bahaya dari keyakinan yang salah tempat. Para pembuat kapal lintas lautan itu merasa sangat yakin jika kapal yang mereka bangun tidak dapat tenggelam. Namun betapa salahnya keyakinan mereka! Yeremia mengingatkan kita: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!” (Yer. 17:5).

Kita semua tergoda untuk mencari rasa aman kita pada sesama manusia atau materi. Betapa seringnya kita perlu diingatkan kembali untuk mengabaikan keyakinan yang salah tersebut dan datang kembali kepada Allah. Apakah Anda mengandalkan sesuatu yang lain selain Allah? —HDF
Saat kami mengandalkan-Mu, Tuhan,
Kami akan seperti pohon yang tumbuh
Di tepi air yang mengalir,
Menghasilkan buah dan berdiri teguh. —Sper
Orang yang mengandalkan Allah tidak akan pernah dikecewakan.

Friday, October 26, 2012

26/10 BACA : YOSUA 2 : 1 - 14

Bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya? —Yakobus 2:25

 
Lukas 1-3
______________________________________________________ 

Termasuk Wanita Itu?



Seandainya Anda melihat silsilah keluarga Anda dan menemukan keterangan ini tentang nenek buyut Anda: “Seorang pelacur, ia menyembunyikan musuh dari pemerintah di rumahnya. Ketika ditanya pihak berwenang, ia berdusta tentang hal itu.”

Bagaimana sikap Anda terhadap nenek buyut Anda? Menyembunyikan cerita tentang dirinya dari siapa pun yang bertanya tentang keluarga Anda? Atau sebaliknya menyanjung dan menghargainya sebagai bagian dari legenda kisah keluarga Anda?
Mari berkenalan dengan Rahab. Jika yang kita ketahui mengenai Rahab hanyalah apa yang tertulis dalam Yosua pasal 2, mungkin kita akan memasukkan Rahab dalam kelompok pengkhianat dan pemberi teladan yang buruk dalam Alkitab. Namun kisahnya tidak berhenti di sana. Matius 1:5-6 mengungkapkan bahwa Rahab adalah nenek buyut Raja Daud—dan Rahab masuk dalam silsilah keluarga Juruselamat kita, Yesus. Dan masih ada lagi. Ibrani 11:31 menyebut Rahab sebagai seorang wanita beriman yang diselamatkan dari runtuhnya kota Yerikho (lih. Yos. 6:17). Dalam Yakobus 2:25, tindakan penyelamatan yang dilakukan Rahab disebutkan sebagai bukti dari kebenaran imannya.

Demikian menakjubkannya kasih Allah. Dia dapat memilih orang dengan reputasi yang buruk, mengubah hidup mereka, dan menjadikan mereka sebagai teladan dari kasih dan pengampunan-Nya. Jika Anda merasa terlalu buruk untuk dapat diampuni atau jika Anda mengenal seseorang yang mempunyai perasaan seperti itu, bacalah kisah Rahab dan bersukacitalah. Jika Allah dapat menjadikan Rahab sebagai mercusuar kebenaran, ada pengharapan bagi kita semua. —JDB
Harga penebusan telah dibayar Juruselamat kita
Saat semua dosa kita ditanggung oleh-Nya;
Dia memikul kesalahan dan rasa malu kita
Sehingga kita bisa memuliakan nama-Nya. —D. De Haan
Besar atau kecil dosa-dosa kita, Yesus sanggup mengampuni semuanya.

Thursday, October 25, 2012

25/10 BACA : MAZMUR 145 : 1 - 13

Aku akan merenungkan kemuliaan-Mu, kemegahan-Mu, keagungan-Mu, dan mujizat-mujizat-Mu. —Mazmur 145:5
 
Markus 14-16
_____________________________________________________

Memandang Kembali Kemuliaan



Setiap musim panas, ribuan pemirsa acara Good Morning America menetapkan pilihan mereka tentang “Tempat Terindah di Amerika”. Saya sangat gembira ketika diumumkan bahwa pemenang untuk tahun 2011 adalah Danau Sleeping Bear Dunes yang terletak di Michigan, tempat saya tinggal. Terus terang, saya tak menduga jika tempat yang terpilih sebagai pemenang itu terletak di dekat tempat tinggal saya. Ini mengingatkan saya suatu peristiwa ketika saya dan istri saya, Martie, mengunjungi air terjun Niagara. Seorang pria memperhatikan tingkah laku kami sebagai wisatawan dan mencemooh, “Pemandangan ini tak ada istimewanya. Saya melihatnya setiap hari.”

Betapa mudahnya kita menjadi terbiasa dengan lingkungan di sekitar kita dan merasa jemu terhadap hal-hal yang biasa kita lihat—termasuk berbagai tempat dan pengalaman yang pernah membuat kita sangat senang. Meski keagungan Allah dengan jelas tampak di sekitar kita, terkadang kesibukan sehari-hari menghalangi pandangan kita. Kita menganggap karya Allah yang agung dalam kehidupan sebagai sesuatu yang biasa. Kita kehilangan kekaguman akan salib. Kita melupakan hak istimewa bahwa kita telah menjadi anak-Nya. Kita mengabaikan sukacita dari kehadiran-Nya dan tak lagi menemukan keindahan dalam ciptaan-Nya.

Saya menyukai pernyataan pemazmur: “Aku akan merenungkan kemuliaan-Mu, kemegahan-Mu, keagungan-Mu, dan mukjizat-mukjizat-Mu” (Mzm. 145:5 fayh). Mari sediakan waktu hari ini untuk merenungkan “mukjizat-mukjizat” Allah dan sekilas memandang kembali kemuliaan-Nya! —JMS
Atas tiap kurnia pada pagi dan petang,
Atas bukit dan lembah, surya bintang cemerlang.
Tuhan, Raja semesta, bagi-Mu
Syukur, syukur, puji dan sembah. —Pierpoint
(Kidung Jemaat, No. 54)
Jika semua diciptakan begitu indahnya, betapa terlebih mulia Dia yang menciptakannya! —Antony dari Padua

Wednesday, October 24, 2012

24/10 BACA : KISAH PARA RASUL 18 : 24 -28


[Tuhan] mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. —Mazmur 25:9
 
Markus 11-13
_______________________________________________________
 
Fasih, Tapi Rendah Hati 
 
Saya mengagumi orang-orang yang mampu menyampaikan keyakinannya melalui ucapan dan membujuk orang lain dengan keahlian mereka berbicara. Beberapa orang menyebutnya sebagai “karunia untuk berbicara” atau “cakap berkata-kata”. Yang lain menyebutnya “kefasihan.”.

Apolos memiliki karunia tersebut. Dinyatakan kepada kita bahwa Apolos adalah “seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci” (Kis. 18:24). Namun, meski mengajar secara akurat tentang Kristus, ia berkhotbah hanya tentang baptisan Yohanes yang merupakan baptisan pertobatan dari dosa (ay.25; 19:4).

Apolos mengetahui tentang pengajaran Yesus, tetapi ia mungkin belum mengetahui tentang kematian dan kebangkitan-Nya, dan bahwa Roh Kudus telah datang (Kis. 2). Pengajaran Apolos tidaklah lengkap karena ia tidak mengetahui tentang kepenuhan Roh Kudus yang menjadi sumber kekuatan setiap hari.

Oleh karena itu, Priskila dan Akwila, sepasang suami-istri sahabat Paulus, mengundang Apolos ke rumah mereka untuk mengoreksi pengajaran Apolos. Meski mengenyam pendidikan tinggi dan memahami seluk-beluk Alkitab, Apolos dengan rendah hati menerima pengajaran dari kedua tuan rumahnya. Sebagai hasilnya, Apolos dapat melanjutkan pelayanannya dengan pemahaman yang baru.

Mazmur 25:9 mengingatkan kita bahwa Allah “membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” Jika kita rendah hati, kita dapat diajar Allah dan dipakai untuk menjangkau hidup orang lain. —CHK
Makin serupa Yesus, Tuhanku,
Inilah sungguh kerinduanku;
Makin bersabar, lembut dan merendah,
Makin setia dan rajin bekerja. —Gabriel
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 138)
Di mana ada kerendahan hati, di situ ada kekuatan.

Tuesday, October 23, 2012

23/10 READ : LAMENTATIONS 3 : 13 - 26

Through the Lord’s mercies we are not consumed, because His compassions fail not. —Lamentations 3:22
Bible in a Year:
Mark 7-10
__________________________________________________________

Perhaps the most painful statement a person can hear is, “I don’t love you anymore.” Those words end relationships, break hearts, and shatter dreams. Often, people who have been betrayed guard themselves against future pain by deciding not to trust anyone’s love again. That settled conviction may even include the love of God.

The remarkable thing about God’s love for us is His promise that it will never end. The prophet Jeremiah experienced devastating circumstances that left him emotionally depleted (Lam. 3:13-20). His own people rejected his repeated calls to respond to God’s love and follow Him. At a low point, Jeremiah said, “My strength and my hope have perished from the Lord” (v.18).

Yet, in his darkest hour Jeremiah considered God’s unfailing love and wrote, “Through the Lord’s mercies we are not consumed, because His compassions fail not. They are new every morning; great is Your faithfulness. ‘The Lord is my portion,’ says my soul, ‘therefore I hope in Him!’” (Lam. 3:22-24). A person may vow to love us forever yet fail to keep that promise, but God’s love remains steadfast and sure. “He is the One who goes with you. He will not leave you nor forsake you” (Deut. 31:6). That’s a love we can trust.

O Love that wilt not let me go
I rest my weary soul in Thee;
I give Thee back the life I owe,
That in Thine ocean depths its flow
May richer, fuller be. —Matheson
God’s love never fails.

Monday, October 22, 2012

22/10 READ: THESSALONIANS 5:16-22

In everything give thanks; for this is the will of God in Christ Jesus for you. —1 Thessalonians 5:18

Bible in a Year:
Mark 4-6
__________________________________________________________

In Lansing, Michigan, during the winter, we don’t get many sunny days. But last year God blessed us with one of those beautiful days, and it seemed that almost everyone was thanking God, except me. As I left my office, a man said, “What a wonderful day we’re having. This is a gift from God!” To which I replied, “Yes, but we’re getting snow later this week.” What ingratitude!

In his letters, the apostle Paul helped his readers to develop a theology of gratitude. He wrote about thanksgiving more often than any other New Testament author. From the 23 times he used the word, we learn a few lessons about thanksgiving.

Thanksgiving was always directed toward God and never toward people. People were gifts from God, and Paul thanked God for their growth, love, and faith (1 Cor. 1:4; 1 Thess. 1:2).

Thanksgiving is given through Jesus for everything (Col. 3:15,17). Paul believed followers of Jesus could be thankful for everything because God is sovereign, and He is working things out for the believers’ good (1 Thess. 5:18).

May we intentionally be aware of God’s gifts all around us, and respond with gratitude. In response to God’s gifts, it’s natural to say, “Thank You, Lord.”

Lord, for days that are sunny or gray we simply
want to say, Thank You! And for the daily grace
You give us in Your Son, may we always be faithful
to say, Thank You! You are so good to us.
Gratitude is a natural response to God’s grace.