اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
Allah akan (balik) mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
1). Bayangkan Allah sebagai sebuah kaca bening, dimana setiap laku
manusia (terlahirkan atau masih terbatinkan) akan terlihat dengan jelas
di sana. Melalui perumpamaan cermin ini, laku manusia bisa dilihat
sebagai:
Satu, sekecil apapun perbuatan manusia niscaya
akan tertangkap dengan jelas oleh cermin tersebut. Semua gerak-gerik
manusia terekam di sana dengan serinci-rincinya. Tidak ada laku manusia
sekecil atom atau sehalus benak sekalipun, kecuali tersorot dengan
saksama oleh kamera cermin tersebut. “Sesungguhnya Kamilah (yang)
menghidupkan orang mati dan Kami (pulalah yang) menuliskan apa yang
telah mereka kerjakan (selama hidupnya) dan bekas-bekas yang mereka
tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang
nyata (Lohmahfuz).” (36:12)
Dua, sesederhana apapun laku manusia, pada dasarnya
yang mereka lihat di dalam cermin itu adalah laku (perbuatannya)
sendiri. Jadi kalau dia berbuat baik, maka yang dia lihat adalah
perbuatan baiknya sendiri; dan kalau dia berbuat buruk, yang dia lihat
adalah perbuatan buruknya sendiri. Setelah melihat keindahan
perberbuatan baiknya, dia akan termotivasi untuk melakukan kebaikan
berikutnya, dan seterusnya hingga kebaikan itu menjadi kebiasaannya
sehari-hari dan membentuk sifat dan akhlaknya.
2). Sifat suatu laku, seperti dijelaskan pad poin 1 tadi, akan mengalami
eksponensialisasi bilamana menjadi preseden bagi orang lain. Karena
Nabi saw bersabda: “Siapa yang mencontohkan suatu perbuatan baik
lalu diikuti oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala seperti
pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala
orang tersebut. Dan siapa yang mencontohkan suatu perbuatan buruk lalu
diikuti oleh orang lain, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang
melaksanakannya, tanpa mengurangi dosa pelaku tersebut.” (HR.
Muslim dan Ibnu Majah) Dapat kita bayangkan jikalau yang mengikuti
perbuatan tersebut bukan hanya seorang tapi beratus-ratus, beribu-ribu,
bahkan berjuta-juta; bukan hanya satu generasi tapi
bergenerasi-generasi. Dan orang munafiq tidak mungkin mencontohkan hal
yang baik, karena dasar dari seluruh perbuatan mereka adalah Mereka (bermaksud) menipu Allah dan orang-orang yang beriman
(ayat 9). Mereka tidak pernah bersungguh-sungguh dengan iman mereka
karena mereka hanya ingin mencemooh orang beriman (ayat 14). Sehingga
mereka menginisiasi perbuatan tersebut bukan karena ketidaktahuan, tapi
memang dimaksudkan untuk mendeviasi manusia dari shirathal mustaqym
(jalan yang lurus).
3). Kata طُغْيَان (thughyān) yang ada di ayat ini seasal kata dengan
طَغَى (thaghā)—yang diartikan sebagai to be tyrannical, oppressive,
despotic, atau to oppress, prevail (in), predominate (in), dominate,
seperti di 20:24 atau 79:37—dan الطَّاغُوتُ (thāghuwt)—yang diartikan
sebagai idol atau devil, seperti di 4:60 atau 39:17. Dari pengertian
طَغَى (thaghā) dan الطَّاغُوتُ (thāghuwt) tersebut bisa diramu makna
طُغْيَان (thughyān) sebagai oppression atau tyranny, hampir sama dengan
makna yang terkandung dalam kata ظُلْمٌ (dzulm, zalim, aniaya). Dimana
orang yang punya ‘penyakit’ طَغَى (thaghā) akan menjadikan dirinya
sebagai idol dan devil. Dengan demikian pengertian “tersesat” yang
digunakan untuk kata طُغْيَان (thughyān) di ayat ini bermakna tersesat
akibat perbuatan aniaya, penindasan, opresi, tirani, dan kezaliman yang
mereka lakukan dengan cara menyimpangkan opini publik secara ‘paksa’
melalui berbagai instrument kekuasaan yang mereka miliki. Artinya,
semakin tinggi tensi opresi, penindasan dan kezaliman yang mereka
lakukan semakin jauh pula mereka terjerumus ke dalam lembah kesesatan;
seperti orang yang terjebak ke dalam lumpur hidup, semakin bergerak
semakin tertarik jauh ke dalam lumpur tersebut.
4). Tokoh yang paling sering dicontohkan al-Qur’an berkenaan dengan
sifat طُغْيَان (thughyān) ini ialah Fir’aun. Allah berfirman kepada Nabi
Musa as: “(Wahai Musa) Pergilah kepada Firaun, (karena) sungguh ia
telah طَغَى (thaghā)—berkuasa secara tiranik, menindas, dan melampaui
batas". (20:24) Kedatangan Musa (dengan segala keindahan akhlaqnya)
kepada Fir’aun, bukan membuat yang terakhir ini kembali kepada kebenaran
seperti yang diminta Musa kepadanya, tetapi malah semakin menjadi-jadi
amarah dan keangkuhannya. Bagi Fir’aun, nasehat Musa adalah kritik yang
mengancam kelangsungan pemerintahannya.Fir’aun benar-benar terombang-ambing dalam kesesatannya. Bahkan jauh sebelumnya, Fir’aun sudah tercabut nilai-nilai
kemanusiaannya dengan membunuh bayi-bayi laki-laki yang baru lahir yang
menurutnya kelak akan menjadi kekuatan oposisi yang memplototi prilaku
despotiknya dalam menjalankan kekuasaannya. Baginya, semua suara yang
berbeda dengan titahnya adalah serangan yang harus dibumihanguskan. Yang ditakuti sebenarnya bukan lagi Nabi Musa tapi bayangannya sendiri.
AMALAN PRAKTIS
Kalau Anda belum mampu melakukan suatu amalan agama, maka
datanglah dengan jujur kepada Allah mengakui ketidakmampuan Anda seraya
meminta pertolongan-Nya. Jangan pernah menjadikan amalan tersebut
sebagai barang olok-olokan. Karena jika Anda sudah mencemooh amalan
agama, niscaya Allah membiarkan Anda terombang-ambing dalam kesesatan.
Dan jika itu terjadi, maka tunggulah kehancuran dan kebinasaan Anda,
cepat atau lambat.