Friday, November 2, 2012

02/11 TINY WISDOM ON BEING HARD ON YOURSELF

by Lori Deschene

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.” -African Proverb

Sometimes we judge ourselves pretty harshly. We blame ourselves for things we have absolutely no control over. We criticize, berate, and even disparage ourselves, treating ourselves far worse than we’d ever treat other people.

It’s just all too easy to hold ourselves to high standards, and then get frustrated if we fail to meet them. I know I have done this before, and, at the risk of sounding defeatist, I know I will do it at some point again.
I believe that in much the same we will inevitably have conflicts with other people, we will also go through times when we’re not kind and loving to ourselves.

Perhaps the key to silencing the enemy within is accepting that it is there–that we all possess both darkness and light within us–and then learning to create a higher ratio of self-affirming to self-diminishing thoughts. Maybe the goal shouldn’t be to always be positive, but to recognize when we start being self-critical so that we can shift our thoughts more quickly and effectively with each internal struggle.

In a perfect world, we would always know the exact way to think and thing to do to nurture ourselves and honor our needs, and we’d instinctively always do those things. Maybe some people do. But I can’t speak for them, because I sometimes struggle.

What helps me is to focus on progress, not perfection–to forgive myself when I’ve gotten negative, and then start anew from right where I stand.

Today if you get down on yourself, remember: You’re doing the best you can, and you have the power to choose, right now, that your best is good enough.

02/11 QS. AL-BAQARAH (2) : 16

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرُوُاْ الضَّلاَلَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُواْ مُهْتَدِينَ

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tiadalah beruntung perniagaannya dan mereka tidak mendapat petunjuk

 1). Jual beli atau barter artinya tukar-menukar antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kalau kita membeli sesuatu, maka kita menyerahkan uang kita kepada pemilik sesuatu itu, baru kemudian kita mengambil sesuatu dari penjualnya. Kalau kita barter, berarti kita menyerahkan barang kita kepada lawan barter kita setelah itu kita ambil barangnya sebagai ganti dari barang yang kita serahkan tadi. Dengan demikian, baik dalam jual-beli ataupun barter sama-sama ada pertukaran kepemilikan. Nah, orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir (ayat 8) adalah orang yang menggunakan ‘iman’ sebagai mata uangnya untuk bisa diterima ‘bergabung’ ke dalam masyarakat orang beriman (ayat 14) agar, dengan begitu, mereka bisa melancarkan makarnya di tengah-tengah orang beriman. ‘Iman’ adalah الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK), ‘makar’ adalah الضَّلاَلَةَ (adh-dholālah, kesesatan). Mereka ‘menyerahkan’ PETUNJUK-nya demi keberhasilan perjuangannya untuk menyesatkan orang yang sudah beriman.

2). Perniagaan seperti ini tidak pernah beruntung. Alasannya, mereka (orang munafiq itu) ‘menyerahkan’ الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an) yang nilai kebaikannya tak bisa diukur untuk mendapatkan الضَّلاَلَةَ (adh-dholālah, kesesatan) yang tak punya nilai kebaikan sama sekali. Membandingkan keduanya dengan berlian sebesar bola bumi dan sebutir pasir pun belum pantas. Karena bagaimana mungkin membandingkan sesuatu yang nilainya tak-terhingga dengan sesuatu yang tidak punya nilai sama sekali. Bagaimana mungkin membandingkan cahaya dengan kegelapan. Jangankan membandingkan, menghadirkan keduanya di satu tempat pada saat yang sama pun tidak mungkin. Sama tidak mungkinnya menyatukan antara yang ADA dan yang TIDAK-ADA. Allah mengajarkan kita: “Allah sama sekali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah qalbu dalam rongga(jiwa)nya (untuk menampung dua hal yang saling bertentangan satu sama lain).” (33:4)


3). Di ayat ini Allah menyebut perbuatan jual-beli dan barter mereka dengan mempertegasnya sebagai تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan). Keduanya memang mirip, tapi tidak sama. Orang yang melakukan perbuatan jual-beli atau tukar-menukar barang tidak secara otomatis disebut sebagai تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan). Orang yang perbuatan jual-beli atau tukar-menukarnya pantas disebut تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan) ialah orang yang profesi utamanya memang di bidang jual-beli dan tukar-menukar barang. Jadi ayat ini ingin menyampaikan kepada kita pengumuman penting. Yaitu, berhati-hatilah, waspadalah, karena orang munafiq itu profesi utamanya adalah تِجَارَةٌ (tijārah, perniagaan) yang komoditas dagangannya adalah الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an). Pesan inti ayat ini ialah “berhati-hatilah dari mana Anda mengambil agama Anda, karena Agama itu punya sumber. Kalau Anda mengambilnya dari sumber yang tersesat maka Anda pun turut tersesat.” Soalnya, orang-orang munafiq ini kemana-mana selalu menggunakan ‘baju’ dan ‘mata-uang’ الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an), sehingga sangat mudah menipu dan mengecoh manusia. Karena walaupun dagangan (‘baju’ dan ‘mata-uang’) mereka الْهُدَى (al-hudā, PETUNJUK, al-Qur’an), tetapi mereka sendiri tidak mendapat PETUNJUK.

Berhati-hati, waspada, sebab sebagai pedagang profesional, mereka mengemas barang dagangannya sedemikian rupa sehingga kebanyakan manusia tidak mengenalnya: “Di antara orang-orang Arab (Badui) yang ada di sekelilingmu (Muhammad), ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka…” (9:101)

 4). Agar jangan kena tipu oleh orang munafiq dengan perniagaannya yang begitu menggiurkan, maka Allah menawarkan satu-satunya perniagaan yang bukan saja tidak membawa kerugian tapi sekaligus menghindarkan manusia dari azab yang pedih—seperti azab yang dirasakan oleh mereka (ayat 10). “Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?” (jawaban pertama, yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kalian mengetahuinya.” (61:10-11) Jawaban berikutnya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (al-Qur’an) dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (35:29)


AMALAN PRAKTIS
Anda boleh membaca buku apa saja dan mengaji di mana saja. Tetapi tetaplah waspada. Karena, menurut ayat ini, tidak sedikit orang yang menjadikan agama sekedar sebagai topeng, sebagai barang dagangan, untuk mengecoh orang mukmin agar mau mengikuti agenda mereka yang tersembunyi dengan rapih di balik jubah mereka.

 

Thursday, November 1, 2012

01/11 BACA : MAZMUR 22 : 1 - 9; 20 - 27

Orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! —Mazmur 22:27
 
Lukas 22 - 24
_________________________________________________________

Merasa Ditinggalkan?


Tahukah Anda, mazmur mana yang paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru? Mungkin tebakan Anda adalah Mazmur 23 yang paling favorit dan terkenal, tetapi sebenarnya yang paling sering dikutip adalah Mazmur 22. Mazmur ini diawali dengan perkataan Daud yang emosional dan menyedihkan, yang dikutip Yesus ketika tergantung di kayu salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46; Mrk. 15:34).

Bayangkan situasi yang telah dialami Daud yang menyebabkannya sampai berseru kepada Allah dengan cara seperti itu. Perhatikan bagaimana ia merasa ditinggalkan dan dicampakkan: “Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mzm. 22:2). Ia juga merasa diabaikan: “Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab” (ay.3).

Apakah Anda pernah mengalami situasi yang sama seperti yang dialami Daud? Apakah Anda pernah menatap ke langit dan bertanya-tanya mengapa sepertinya Allah telah meninggalkan atau mengabaikan Anda? Itulah yang dirasakan Daud. Namun untuk setiap tangisan sedih yang diungkapkan Daud, tersebut sifat Allah yang telah menyelamatkannya dari keputusasaan. Ketika Daud mengalaminya, ia menyadari bahwa Allah itu kudus (ay.4), dapat dipercaya (ay.5-6), penolong dan penyelamat (ay.9, 21-22), dan kuat (ay.20).

Apakah Anda merasa ditinggalkan? Carilah Tuhan. Pelajari karakter-Nya. Dan “biarlah hatimu hidup untuk selamanya!” (ay.27). —JDB
Tuhan, terkadang aku merasa seolah Kau tak mempedulikan hidupku.
Ketika aku mengalami perasaan itu, tolong ingatkan aku tentang
sifat-Mu seperti yang Kau lakukan kepada Daud. Tolong aku untuk
bersandar kepada-Mu lagi dan tahu bahwa Kau menyertaiku.
Sekalipun kita tidak merasakan kehadiran Allah, kasih pemeliharaan-Nya ada terus bersama kita.

7 (TUJUH) INDIKATOR KEBAHAGIAAN



Ibnu Abbas ra menjelaskan, ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan di dunia yaitu:


1). QOLBUN SYAKIRUN,
atau hati yg selalu bersyukur,
*Artinya selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yg berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yg selalu bersyukur.

2). AL-AZWAJU SHALIHAH,
yaitu pasangan hidup yang sholeh.
*Pasangan hidup yg sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yg sholeh pula.

3). AL-AULADUL ABRAR,
yaitu anak yg sholeh.
*Do'a anak yg sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan اَللّهُ ,

4). AL-BIATU SHOLIHAH,
yaitu lingkungan yg kondusif untuk iman kita.
*Rasulullah menganjurkan kita utk selalu bergaul dgn orang2 sholeh yg selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah.

5). AL-MALUL HALAL,
atau harta yang halal.
*Bukan banyaknya harta tapi halalnya harta yg dimiliki. Berbahagialah orang yg selalu dgn teliti menjaga kehalalan hartanya.

6). TAFAKUH FID-DIEN, a
tau semangat utk memahami agama.
*Dengan belajar ilmu agama, akan semakin cinta kepada agama dan semakin tinggi cintanya kepada اَللّهُ dan Rasulnya. Cinta inilah yg akan memberi cahaya bagi hatinya.

7). UMUR YANG BAROKAH.
*Artinya umur yg semakin tua semakin sholeh, setiap detiknya diisi dgn amal ibadah. Semakin tua semakin rindu utk bertemu dgn Sang Pencipta. Inilah semangat hidup orang2 yg barokah umurnya, maka berbahagialah orang2 yg umurnya barokah.

Sếmõƍα ƙίƭα Sế♏υα bisa menjadi orang2 yg βahagia Ðunia Άkherat:)♥
**dari temanku:: Rtb Hendra Bambang Wisanggeni, copas by Bani

SERUNE KALEE

Serune Kalee adalah instrumen tiup tradisional Aceh merupakan alat musit khas tradisional Aceh yang mampu mengalunkan instrumen-instrumen luar biasa yang mengiringi lagu-lagu nan syahdu maupun heroik yang telah lama berkembang dan dihayati oleh masyarakat Aceh sejak zaman Kerajaan-Kerajaan Aceh sampai sekarang.




Alat musik ini populer di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Biasanya alat musik ini dimainkan bersamaan dengan Rapai dan Gendrang pada acara-acara hiburan, tarian, penyambutan tamu kehormatan di masa raja diraja zaman keemasan kerajaan Aceh Darussalam.


Serune Kalee bersama-sama dengan geundrang dan Rapai merupakan suatau perangkatan musik yang dari semenjak jayanya kerajaan Aceh Darussalam sampai sekarang tetap menghiasi/mewarnai kebudayaan tradisional Aceh disektor musik.



Serune Kalee merupakan salah satu alat musik tiup tradisional Aceh. Alat musik ini merupakan salah satu jenis serunai atau clarinet yang tersebar dalam masyarakat Melayu.

01/11 TINY WISDOM ON PATIENCE

by Lori Deschene

“If we are facing in the right direction, all we have to do is keep on walking.” -Proverb

One of the hardest things in life is knowing what’s right for you. You can drive yourself crazy trying to find it–the right work, the right goals, the right purpose, the right partner.

The truth is there is no right. At any time you can decide to change directions, and that’s a completely valid choice. You don’t have to define it, defend it, or even understand it. You just need to trust yourself and then find the courage to walk the path you chose.

If any time it stops feeling right, you can then decide again. And then walk and keep on walking.

01/11 QS. AL-BAQARAH (2) : 15

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
 Allah akan (balik) mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
 1). Bayangkan Allah sebagai sebuah kaca bening, dimana setiap laku manusia (terlahirkan atau masih terbatinkan) akan terlihat dengan jelas di sana. Melalui perumpamaan cermin ini, laku manusia bisa dilihat sebagai:
Satu, sekecil apapun perbuatan manusia niscaya akan tertangkap dengan jelas oleh cermin tersebut. Semua gerak-gerik manusia terekam di sana dengan serinci-rincinya. Tidak ada laku manusia sekecil atom atau sehalus benak sekalipun, kecuali tersorot dengan saksama oleh kamera cermin tersebut. “Sesungguhnya Kamilah (yang) menghidupkan orang mati dan Kami (pulalah yang) menuliskan apa yang telah mereka kerjakan (selama hidupnya) dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lohmahfuz).” (36:12)
Dua, sesederhana apapun laku manusia, pada dasarnya yang mereka lihat di dalam cermin itu adalah laku (perbuatannya) sendiri. Jadi kalau dia berbuat baik, maka yang dia lihat adalah perbuatan baiknya sendiri; dan kalau dia berbuat buruk, yang dia lihat adalah perbuatan buruknya sendiri. Setelah melihat keindahan perberbuatan baiknya, dia akan termotivasi untuk melakukan kebaikan berikutnya, dan seterusnya hingga kebaikan itu menjadi kebiasaannya sehari-hari dan membentuk sifat dan akhlaknya. 
 2). Sifat suatu laku, seperti dijelaskan pad poin 1 tadi, akan mengalami eksponensialisasi bilamana menjadi preseden bagi orang lain. Karena Nabi saw bersabda: “Siapa yang mencontohkan suatu perbuatan baik lalu diikuti oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang tersebut. Dan siapa yang mencontohkan suatu perbuatan buruk lalu diikuti oleh orang lain, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang melaksanakannya, tanpa mengurangi dosa pelaku tersebut.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah) Dapat kita bayangkan jikalau yang mengikuti perbuatan tersebut bukan hanya seorang tapi beratus-ratus, beribu-ribu, bahkan berjuta-juta; bukan hanya satu generasi tapi bergenerasi-generasi. Dan orang munafiq tidak mungkin mencontohkan hal yang baik, karena dasar dari seluruh perbuatan mereka adalah Mereka (bermaksud) menipu Allah dan orang-orang yang beriman (ayat 9). Mereka tidak pernah bersungguh-sungguh dengan iman mereka karena mereka hanya ingin mencemooh orang beriman (ayat 14). Sehingga mereka menginisiasi perbuatan tersebut bukan karena ketidaktahuan, tapi memang dimaksudkan untuk mendeviasi manusia dari shirathal mustaqym (jalan yang lurus).
3). Kata طُغْيَان (thughyān) yang ada di ayat ini seasal kata dengan طَغَى (thaghā)—yang diartikan sebagai to be tyrannical, oppressive, despotic, atau to oppress, prevail (in), predominate (in), dominate, seperti di 20:24 atau 79:37—dan الطَّاغُوتُ (thāghuwt)—yang diartikan sebagai idol atau devil, seperti di 4:60 atau 39:17. Dari pengertian طَغَى (thaghā) dan الطَّاغُوتُ (thāghuwt) tersebut bisa diramu makna طُغْيَان (thughyān) sebagai oppression atau tyranny, hampir sama dengan makna yang terkandung dalam kata ظُلْمٌ (dzulm, zalim, aniaya). Dimana orang yang punya ‘penyakit’ طَغَى (thaghā) akan menjadikan dirinya sebagai idol dan devil. Dengan demikian pengertian “tersesat” yang digunakan untuk kata طُغْيَان (thughyān) di ayat ini bermakna tersesat akibat perbuatan aniaya, penindasan, opresi, tirani, dan kezaliman yang mereka lakukan dengan cara menyimpangkan opini publik secara ‘paksa’ melalui berbagai instrument kekuasaan yang mereka miliki. Artinya, semakin tinggi tensi opresi, penindasan dan kezaliman yang mereka lakukan semakin jauh pula mereka terjerumus ke dalam lembah kesesatan; seperti orang yang terjebak ke dalam lumpur hidup, semakin bergerak semakin tertarik jauh ke dalam lumpur tersebut.  

4). Tokoh yang paling sering dicontohkan al-Qur’an berkenaan dengan sifat طُغْيَان (thughyān) ini ialah Fir’aun. Allah berfirman kepada Nabi Musa as: “(Wahai Musa) Pergilah kepada Firaun, (karena) sungguh ia telah طَغَى (thaghā)—berkuasa secara tiranik, menindas, dan melampaui batas". (20:24) Kedatangan Musa (dengan segala keindahan akhlaqnya) kepada Fir’aun, bukan membuat yang terakhir ini kembali kepada kebenaran seperti yang diminta Musa kepadanya, tetapi malah semakin menjadi-jadi amarah dan keangkuhannya. Bagi Fir’aun, nasehat Musa adalah kritik yang mengancam kelangsungan pemerintahannya.Fir’aun benar-benar terombang-ambing dalam kesesatannya. Bahkan jauh sebelumnya, Fir’aun sudah tercabut nilai-nilai kemanusiaannya dengan membunuh bayi-bayi laki-laki yang baru lahir yang menurutnya kelak akan menjadi kekuatan oposisi yang memplototi prilaku despotiknya dalam menjalankan kekuasaannya. Baginya, semua suara yang berbeda dengan titahnya adalah serangan yang harus dibumihanguskan. Yang ditakuti sebenarnya bukan lagi Nabi Musa tapi bayangannya sendiri.
AMALAN PRAKTIS
Kalau Anda belum mampu melakukan suatu amalan agama, maka datanglah dengan jujur kepada Allah mengakui ketidakmampuan Anda seraya meminta pertolongan-Nya. Jangan pernah menjadikan amalan tersebut sebagai barang olok-olokan. Karena jika Anda sudah mencemooh amalan agama, niscaya Allah membiarkan Anda terombang-ambing dalam kesesatan. Dan jika itu terjadi, maka tunggulah kehancuran dan kebinasaan Anda, cepat atau lambat.